Sekolah Dasar dan Menengah Harus Siap Hadapi Perubahan: TKA Digabung dengan AN Mulai 2026
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan bahwa pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) akan digabungkan dengan Asesmen Nasional (AN) mulai tahun 2026. Keputusan ini diambil untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam proses evaluasi pendidikan. Dengan penggabungan ini, jumlah tes yang harus diikuti oleh siswa dan sekolah akan berkurang secara signifikan.
Fungsi Berbeda, Teknis Sama

Meskipun TKA dan AN memiliki fungsi yang berbeda, pemerintah menegaskan bahwa penggabungan ini tidak akan mengubah sistem evaluasi yang sudah ada. TKA tetap berfungsi sebagai alat ukur capaian belajar siswa, sementara AN tetap menjadi alat evaluasi sistem pendidikan nasional.
Hasil dari TKA adalah Sertifikat Hasil TKA (SHTKA), yang diberikan kepada siswa, sedangkan hasil AN berupa Rapor Pendidikan yang digunakan oleh sekolah. Namun, teknis pelaksanaannya akan disatukan mulai 2026.
Dampak Penggabungan TKA dan AN

Penggabungan ini memberikan dampak positif terhadap efisiensi sistem evaluasi. Namun, sekolah juga perlu memperhatikan beberapa hal penting. Sebelumnya, peserta AN ditentukan melalui sampling oleh pemerintah pusat. Dengan penggabungan ini, peserta AN akan otomatis menjadi peserta TKA yang mendaftar.
Artinya, jika sebuah sekolah tidak memiliki siswa yang mendaftar TKA, maka sekolah tersebut tidak akan mengikuti AN. Hal ini berdampak pada tidak terbitnya Rapor Pendidikan untuk sekolah tersebut pada tahun 2027.
Kewajiban Siswa Tetap Terjaga

Meski penggabungan ini memengaruhi sekolah, keputusan untuk mengikuti TKA tetap menjadi hak siswa. Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, menegaskan bahwa TKA tidak wajib diikuti oleh siswa. Setiap siswa berhak memilih apakah ingin mengikuti tes atau tidak.
Namun, sekolah perlu memastikan jumlah peserta TKA mencapai standar sampel AN agar Rapor Pendidikan dapat diterbitkan secara layak pada 2027.
Persiapan Sekolah untuk Tahun 2026
Dalam rangka menyambut perubahan ini, sekolah perlu mempersiapkan diri secara matang. Salah satu langkah penting adalah meningkatkan partisipasi siswa dalam TKA. Jika jumlah peserta tidak mencapai standar, maka sekolah akan menghadapi risiko Rapor Pendidikan yang tidak memadai.
Selain itu, sekolah juga perlu memastikan kesiapan infrastruktur dan sumber daya untuk pelaksanaan tes yang lebih efisien. Pemerintah juga telah melakukan harmonisasi payung hukum untuk memastikan kebijakan ini dapat diterapkan secara merata.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Penggabungan TKA dan AN
![]()
Apakah TKA wajib diikuti oleh siswa?
Tidak, keputusan untuk mengikuti TKA tetap menjadi hak siswa. TKA tidak wajib diikuti.
Bagaimana dampak penggabungan ini terhadap sekolah?
Jika sekolah tidak memiliki siswa yang mendaftar TKA, maka sekolah tersebut tidak akan mengikuti AN. Hal ini berdampak pada tidak terbitnya Rapor Pendidikan.
Apakah AN tetap dilakukan setelah penggabungan?
Ya, AN tetap dilakukan, tetapi peserta AN akan otomatis menjadi peserta TKA yang mendaftar.
Bagaimana cara sekolah memastikan Rapor Pendidikan layak?
Sekolah perlu memastikan jumlah peserta TKA mencapai standar sampel AN agar Rapor Pendidikan dapat diterbitkan secara layak.
Apakah ada perubahan dalam sistem evaluasi pendidikan?
Tidak, sistem evaluasi pendidikan tetap sama. Hanya teknis pelaksanaan yang diubah untuk meningkatkan efisiensi.
Kesimpulan
Penggabungan TKA dan AN mulai 2026 merupakan langkah penting dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas evaluasi pendidikan. Meskipun ada tantangan yang perlu diperhatikan, kebijakan ini diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi siswa, guru, dan seluruh sistem pendidikan nasional.












