Masyarakat Indonesia Menghadapi Peningkatan Kasus Kanker, Ahli Onkologi Soroti Pola Makan sebagai Faktor Utama
Peningkatan jumlah kasus kanker di Indonesia terus menjadi perhatian serius bagi para ahli medis. Menurut Prof Dr dr Aru Wisaksono Sudoyo, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), angka pengidap kanker semakin meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Ia menyoroti bahwa banyak pasien datang berobat dalam kondisi stadium lanjut, yang membuat proses pengobatan lebih sulit dan biaya semakin besar.
Menurut Prof Aru, hanya sekitar 10 persen kasus kanker disebabkan oleh faktor keturunan. Sementara itu, 90 persen lainnya berkaitan dengan lingkungan dan gaya hidup tidak sehat. Salah satu faktor utama yang menyumbang pada peningkatan ini adalah konsumsi makanan ultra processed food (UPF) seperti daging olahan siap saji.
Makanan Olahan Berisiko Tinggi Memicu Kanker

Prof Aru menjelaskan bahwa makanan jenis ini melalui proses pengolahan panjang dan menggunakan bahan seperti nitrat dan nitrit yang telah terbukti berisiko memicu kanker. “Sekarang sudah banyak makanan siap saji, termasuk sosis. Siap-siap saja kanker 20 tahun lagi, terutama pada anak-anak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kanker tidak muncul secara instan. Proses terbentuknya tumor membutuhkan waktu panjang, sekitar 5 hingga 20 tahun. Bahkan, ketika benjolan teraba, proses pembelahan sel abnormal bisa saja sudah dimulai 10 hingga 15 tahun sebelumnya akibat pajanan zat karsinogen.
Kanker Usus Besar Dipengaruhi Pola Makan

Salah satu jenis kanker yang sangat dipengaruhi oleh pola makan adalah kanker usus besar. Di negara Barat, sekitar 10 persen kasus terjadi pada usia di bawah 40 tahun. Sementara di Indonesia, angkanya mencapai sekitar 30 persen.
Prof Aru mengingatkan bahwa lingkungan sudah rusak sejak awal, mulai dari cara makan hingga gaya hidup. Ia menyarankan masyarakat untuk lebih waspada terhadap pola makan dan menghindari konsumsi makanan yang tidak sehat.
Pentingnya Edukasi dan Deteksi Dini
Edukasi menjadi solusi paling tepat dalam menghadapi peningkatan kasus kanker. Prof Aru menegaskan bahwa kanker akan lebih mudah diobati dan berpeluang sembuh total jika terdeteksi sejak dini. Namun, banyak pasien kanker datang berobat sudah dalam kondisi stadium lanjut.
Meski BPJS Kesehatan menanggung pengobatan kanker, pada stadium lanjut ada obat-obatan tertentu yang tidak ditanggung. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih sadar akan kesehatan dan melakukan pemeriksaan rutin.
Peran Gaya Hidup Sehat dalam Pencegahan Kanker
Gaya hidup sehat menjadi kunci dalam mencegah kanker. Prof Aru menekankan bahwa makanan alami lebih baik daripada makanan olahan. Ia juga menyarankan masyarakat untuk lebih aktif bergerak dan menjaga keseimbangan antara kerja dan istirahat.
Dalam upaya mencegah kanker, masyarakat perlu lebih sadar akan dampak dari pola makan dan gaya hidup mereka. Dengan edukasi yang tepat, diharapkan angka pengidap kanker dapat diminimalkan.
FAQ
Apakah kanker bisa disembuhkan jika terdeteksi dini?
Ya, kanker akan lebih mudah diobati dan berpeluang sembuh total jika terdeteksi sejak dini.
Apa saja faktor yang menyebabkan kanker?
Kanker disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup tidak sehat.
Bagaimana pola makan memengaruhi risiko kanker?
Konsumsi makanan olahan seperti daging olahan siap saji meningkatkan risiko kanker karena adanya bahan kimia seperti nitrat dan nitrit.
Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kanker?
Mencegah kanker dapat dilakukan dengan menjaga pola makan sehat, berolahraga rutin, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Apakah semua kanker disebabkan oleh faktor keturunan?
Tidak, hanya sekitar 10 persen kasus kanker disebabkan oleh faktor keturunan. Sementara itu, 90 persen lainnya berkaitan dengan lingkungan dan gaya hidup.
Kesimpulan
Penurunan kualitas lingkungan dan perubahan gaya hidup telah menjadi faktor utama meningkatnya kasus kanker di Indonesia. Dengan kesadaran yang lebih tinggi tentang pola makan dan gaya hidup sehat, masyarakat dapat lebih efektif dalam mencegah penyakit mematikan ini. Edukasi dan deteksi dini menjadi kunci dalam menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks ini.










