Example 728x250
none

Meski Melambat, Pasar Properti Surabaya Masih Menjanjikan

6
×

Meski Melambat, Pasar Properti Surabaya Masih Menjanjikan

Share this article

Pasar Properti Surabaya Masih Menjanjikan Meski Melambat

Pasar properti residensial di Surabaya pada tahun 2025 berada dalam fase konsolidasi, menghadapi tekanan ekonomi nasional. Namun, sejumlah indikator menunjukkan bahwa pasar ini masih memiliki prospek yang relatif cerah bagi pelaku usaha dalam jangka menengah. Hal ini didorong oleh arah siklus properti yang mulai menuju ke arah pemulihan, dengan harapan akan ada peningkatan pada 2026.

Penurunan Penjualan, Tapi Tidak Sepenuhnya Negatif

Rumah menengah di kawasan Surabaya

Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, penjualan properti residensial primer secara nasional pada triwulan III 2025 tercatat turun sebesar -1,29 persen secara tahunan (yoy). Meski masih negatif, capaian tersebut lebih baik dibandingkan kontraksi -3,80 persen pada triwulan II 2025, yang menunjukkan bahwa tekanan pasar mulai mereda.

Segmen Rumah Menengah Terdampak Perlambatan

Di Surabaya, perlambatan pasar terutama terjadi pada segmen rumah menengah, yang paling sensitif terhadap daya beli dan biaya pembiayaan. Namun, kondisi ini lebih mencerminkan fase penyesuaian dan konsolidasi pasar, bukan penurunan struktural. Surabaya tetap menjadi salah satu pusat ekonomi dan hunian utama di Jawa Timur.

Stabilitas Harga Rumah Tipe Besar

Konsumen sedang mempertimbangkan pembelian rumah

Dari sisi harga, SHPR Bank Indonesia mencatat bahwa rumah tipe kecil dan menengah menjadi segmen yang paling terdampak perlambatan sepanjang 2025. Sebaliknya, rumah tipe besar relatif lebih stabil, dengan pertumbuhan harga nasional sekitar 0,72 persen (yoy) pada triwulan III 2025. Stabilitas tersebut menunjukkan bahwa segmen konsumen berdaya beli mapan masih menopang permintaan di kota-kota besar, termasuk Surabaya.

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pasar

Beberapa faktor yang memengaruhi kinerja pasar sepanjang 2025 antara lain pelemahan daya beli masyarakat, tingginya suku bunga KPR pada awal tahun, serta ketidakpastian ekonomi makro yang membuat konsumen menunda keputusan pembelian. Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk sektor perumahan dinilai membantu menjaga minat, meski belum sepenuhnya mendorong lonjakan transaksi.

Ekspansi Perusahaan Properti di Surabaya

Kantor Linktown di Surabaya Pusat

Meski berada dalam fase konsolidasi, pasar properti Surabaya tetap dipandang menarik bagi pelaku usaha. Hal ini tercermin dari langkah sejumlah perusahaan properti dan platform pemasaran yang tetap melakukan ekspansi dan penguatan operasional di kota ini.

Langkah Strategis Linktown

Salah satu contoh adalah Linktown yang pada Rabu (4/2/2026) merelokasi kantor regional Surabaya dari kawasan Surabaya Utara ke Surabaya Pusat. Langkah ini dilakukan untuk mendekatkan pusat operasional dengan kawasan pertumbuhan hunian dan bisnis serta memperkuat penetrasi pasar Jawa Timur.

Optimisme dari Pelaku Usaha

Teknologi digital dalam pemasaran properti

Co-Founder Linktown, Juniarki Davin, menyatakan bahwa Surabaya masih memiliki potensi pasar yang kuat meskipun pergerakan properti saat ini cenderung lebih selektif. “Pasar tidak sedang ekspansif, tetapi tetap berjalan. Ini justru menjadi momentum bagi pelaku usaha untuk memperkuat fondasi dan kesiapan ketika siklus mulai membaik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (6/2/2026).

Daya Tahan Pasar Surabaya

Menurut Co-Founder Linktown lainnya, Deryan Nataniel, Surabaya memiliki karakter pasar yang relatif resilien dengan basis permintaan yang luas. Dengan dukungan agen aktif dan penguatan layanan berbasis teknologi, perusahaan menargetkan kontribusi Surabaya yang lebih signifikan terhadap kinerja nasional dalam jangka menengah.

Proyeksi Pemulihan Pasar

Bank Indonesia memproyeksikan pasar perumahan nasional berpotensi memasuki fase pemulihan bertahap pada 2026, seiring peluang pelonggaran suku bunga, perbaikan daya beli, serta berlanjutnya dukungan kebijakan pemerintah. Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan kebutuhan hunian yang tetap tinggi, Surabaya dinilai memiliki modal yang cukup untuk kembali mencatatkan pertumbuhan yang lebih sehat dalam beberapa tahun ke depan.

FAQ

Apa penyebab perlambatan pasar properti Surabaya?

Perlambatan pasar properti Surabaya disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat, tingginya suku bunga KPR, serta ketidakpastian ekonomi makro.

Bagaimana stabilitas harga properti di Surabaya?

Harga properti tipe besar relatif stabil, sementara tipe kecil dan menengah mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa segmen konsumen berdaya beli mapan masih menopang permintaan.

Apakah pasar properti Surabaya masih prospektif?

Ya, meskipun dalam fase konsolidasi, pasar properti Surabaya masih dinilai prospektif karena posisi ekonomi dan kebutuhan hunian yang tetap tinggi.

Apa faktor yang mendukung pemulihan pasar properti?

Faktor-faktor yang mendukung pemulihan pasar properti meliputi pelonggaran suku bunga, perbaikan daya beli, serta dukungan kebijakan pemerintah.

Bagaimana strategi perusahaan properti di Surabaya?

Perusahaan properti seperti Linktown tetap melakukan ekspansi dan penguatan operasional, termasuk merelokasi kantor untuk memperkuat penetrasi pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *