Gempa Pacitan dengan Kekuatan 6,2 M Dikategorikan sebagai Megathrust, Berpotensi Tsunami
Gempa berkekuatan 6,2 M mengguncang Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada pukul 01.06 WIB. Pusat gempa terletak di laut dengan kedalaman 58 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gempa ini termasuk dalam kategori megathrust, yaitu gempa yang terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik di zona subduksi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi tsunami, meski BMKG memastikan gempa kali ini tidak mencapai skala 7,0 M yang diperkirakan berisiko besar untuk memicu gelombang tsunami.
Guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah seperti Pacitan, Bantul, dan Sleman dengan intensitas IV MMI, serta Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Blitar, Surakarta, hingga Banjarnegara dengan intensitas III MMI. Wilayah Tuban dan Jepara juga merasakan guncangan dengan intensitas II MMI. Meski tidak sampai memicu tsunami, gempa ini menyebabkan kerusakan pada beberapa bangunan, antara lain satu rumah rusak berat di Pacitan, satu rumah rusak ringan di Wonogiri, empat rumah rusak ringan di Bantul, serta satu rumah rusak ringan di Sleman.
Pergerakan Thrusting dan Zona Subduksi Megathrust

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa mekanisme sumber gempa Pacitan adalah pergerakan naik atau thrusting. Pergerakan ini merupakan ciri khas dari gempa megathrust yang terjadi di zona subduksi selatan Jawa. Zona ini merupakan daerah rawan gempa karena adanya pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Menurut Daryono, jika gempa mencapai kekuatan 7,0 M atau lebih, maka potensi tsunami menjadi sangat tinggi. Hal ini didasarkan pada rekam jejak historis BMKG yang mencatat peristiwa tsunami di Pacitan pada 4 Januari 1840 dan 20 Oktober 1859, yang terjadi setelah gempa besar di zona subduksi. Meski gempa Pacitan kali ini tidak mencapai skala tersebut, kondisi geografis Pacitan yang berhadapan langsung dengan megathrust dan memiliki banyak teluk pantai sempit tetap menjadi faktor risiko.
Hasil Pemodelan BMKG: Tidak Ada Potensi Tsunami

Hasil pemodelan BMKG menunjukkan bahwa gempa Pacitan kali ini tidak berpotensi tsunami. Namun, BMKG tetap memperingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti informasi terbaru dari pihak berwenang.
Selain itu, BMKG juga melanjutkan pemantauan terhadap aktivitas seismik di wilayah Jawa, khususnya di zona subduksi. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan masyarakat dan instansi terkait dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami.
Rekam Jejak Tsunami di Pacitan

Pacitan memiliki catatan sejarah tentang tsunami yang terjadi akibat gempa besar. Rekam jejak ini menjadi dasar bagi BMKG dalam mengevaluasi risiko bencana di wilayah tersebut. Dengan kondisi geografis yang rentan, masyarakat di sekitar pantai dan daerah dataran rendah harus lebih waspada dan memperhatikan tanda-tanda alam seperti perubahan arus laut atau suara gemuruh yang tidak biasa.
Upaya Mitigasi Bencana di Jawa Timur

Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kesiapan masyarakat, BMKG bersama pemerintah daerah dan organisasi masyarakat melakukan berbagai upaya mitigasi bencana. Salah satunya adalah pelatihan tanggap darurat, simulasi evakuasi, serta penyebarluasan informasi melalui media massa dan platform digital.
Selain itu, pemerintah juga sedang memperkuat infrastruktur pencegahan bencana, seperti pengadaan sistem peringatan dini dan pembangunan tanggul pantai. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan kerusakan material apabila terjadi gempa atau tsunami.
Pertanyaan Umum
Apa itu gempa megathrust?
Gempa megathrust adalah gempa yang terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik di zona subduksi, yaitu daerah di mana dua lempeng tektonik bertemu dan salah satunya melipat ke bawah lempeng lainnya.
Bagaimana cara mengenali potensi tsunami?
Beberapa tanda potensi tsunami antara lain gempa berkekuatan besar, perubahan arus laut yang drastis, dan suara gemuruh yang tidak biasa.
Apakah Pacitan rawan tsunami?
Ya, Pacitan memiliki rekam jejak tsunami, terutama setelah gempa besar di zona subduksi. Oleh karena itu, masyarakat perlu tetap waspada dan siap mengambil langkah evakuasi jika diperlukan.
Bagaimana BMKG memantau risiko gempa dan tsunami?
BMKG menggunakan teknologi pemodelan, sensor seismik, dan sistem peringatan dini untuk memantau aktivitas seismik dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat.
Apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa?
Saat terjadi gempa, segera cari tempat aman, jauhi benda berat, dan hindari area dekat pantai atau lereng curam.
Kesimpulan
Gempa Pacitan dengan kekuatan 6,2 M menjadi pengingat penting tentang bahaya gempa dan tsunami di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa. Meski gempa kali ini tidak menyebabkan tsunami, kondisi geografis dan sejarah bencana di wilayah tersebut menunjukkan bahwa kesiapan dan kesadaran masyarakat sangat penting. Dengan pemantauan aktif dari BMKG dan partisipasi masyarakat dalam mitigasi bencana, potensi risiko bisa diminimalkan secara signifikan.




