Pahitnya Fakta Produksi Genteng dalam Rencana ‘Gentengisasi’ yang Diusulkan Prabowo
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto memang sering menjadi sorotan dalam berbagai isu kebijakan. Salah satu rencana yang kini ramai dibicarakan adalah program ‘Gentengisasi’, yang bertujuan mengganti penggunaan atap seng dengan genteng tanah liat. Namun, di balik ambisi tersebut, terdapat fakta pahit yang perlu dipertimbangkan oleh masyarakat.
Bahan Baku Terbatas dan Kontradiksi Kebijakan

Salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan ‘Gentengisasi’ adalah keterbatasan bahan baku. Menurut Fajrian, seorang produsen genteng, bahan dasar untuk membuat genteng tanah liat semakin sulit ditemukan. Tanah sawah yang biasanya digunakan sebagai bahan baku kini mulai langka karena pemerintah mendorong swasembada pangan.
“Masalahnya tanah sawah digali untuk membuat genteng. Jadi dengan programnya Pak Prabowo dengan ketahanan pangan itu mungkin agak sedikit kontradiktif,” ujarnya kepada detikProperti.
Selain itu, tanah liat berkualitas tinggi juga semakin langka. Tanah yang memiliki kualitas terbaik hanya ada di lapisan pertama, namun lahan tersebut semakin berkurang akibat penggalian yang terus-menerus.
Proses Produksi Genteng Konvensional yang Rumit

Rencana ‘Gentengisasi’ yang diusulkan oleh Presiden Prabowo melalui Koperasi Merah Putih menawarkan pabrik genteng untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, proses produksi genteng secara masif dinilai tidak mudah.
Fajrian menjelaskan bahwa pabrik genteng yang akan dibangun kemungkinan menggunakan metode konvensional atau manual. Berbeda dengan pabrik besar yang menggunakan mesin otomatis, proses manual ini memerlukan waktu lebih lama dan tenaga kerja yang lebih banyak.
Proses pembakaran genteng memakan waktu hingga 48 jam, sementara pengeringan bisa memakan waktu berminggu-minggu. Hal ini tentu memengaruhi efisiensi produksi dan ketersediaan genteng di pasar.
Dampak Lingkungan yang Mengkhawatirkan

Selain keterbatasan bahan baku, produksi genteng tanah liat secara masif juga berpotensi merusak lingkungan. Fajrian menyebutkan bahwa pabrik konvensional umumnya menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Ini berarti, untuk menghasilkan genteng, banyak pohon harus ditebang.
“Kalau dengan manual, nggak mungkin dengan gas mereka pembakarannya, pasti dengan kayu bakar. Berarti merusak lingkungan lagi,” katanya.
Ini menjadi isu penting, terutama di tengah upaya pemerintah untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi deforestasi. Program ‘Gentengisasi’ yang diharapkan memberikan solusi bagi masyarakat justru bisa menjadi ancaman bagi ekosistem alam.
Tantangan dan Kesiapan Koperasi Merah Putih

Meski demikian, program ‘Gentengisasi’ tetap memiliki potensi positif. Dengan mengganti atap seng dengan genteng tanah liat, masyarakat bisa mendapatkan perlindungan dari panas matahari yang lebih baik. Namun, kesiapan Koperasi Merah Putih sebagai produsen genteng masih menjadi pertanyaan.
Sejumlah ahli mempertanyakan apakah Koperasi Merah Putih mampu memproduksi genteng dalam jumlah besar dengan kualitas yang memadai. Proses produksi yang rumit dan keterbatasan bahan baku bisa menjadi hambatan utama.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa tujuan dari program ‘Gentengisasi’?
Program ‘Gentengisasi’ bertujuan untuk mengganti penggunaan atap seng dengan genteng tanah liat agar masyarakat lebih nyaman dan aman dari panas matahari.
Mengapa bahan baku genteng terbatas?
Bahan baku genteng tanah liat, seperti tanah sawah, semakin langka karena pemerintah mendorong swasembada pangan dan penggalian yang berlebihan.
Apakah produksi genteng konvensional ramah lingkungan?
Tidak, karena pabrik konvensional umumnya menggunakan kayu sebagai bahan bakar, yang berpotensi merusak lingkungan dan menyebabkan deforestasi.
Apakah Koperasi Merah Putih siap memproduksi genteng dalam jumlah besar?
Masih ada keraguan tentang kesiapan Koperasi Merah Putih dalam memenuhi permintaan yang besar, terutama karena keterbatasan bahan baku dan proses produksi yang rumit.
Bagaimana dampak lingkungan dari program ‘Gentengisasi’?
Program ini bisa berdampak negatif pada lingkungan karena penggunaan kayu sebagai bahan bakar dan penggalian tanah sawah yang berlebihan.
Kesimpulan
Program ‘Gentengisasi’ yang diusulkan oleh Presiden Prabowo Subianto memang memiliki tujuan baik, yaitu meningkatkan kenyamanan masyarakat dengan mengganti atap seng dengan genteng tanah liat. Namun, di balik ambisi tersebut, terdapat tantangan besar yang perlu dihadapi, seperti keterbatasan bahan baku, proses produksi yang rumit, dan dampak lingkungan yang mengkhawatirkan.
Dalam hal ini, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk bekerja sama mencari solusi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Hanya dengan pendekatan yang tepat, program ini bisa benar-benar memberikan manfaat nyata bagi rakyat Indonesia.










