Keterjangkauan dan Budaya: Mengapa 32 Persen Rumah di Indonesia Masih Gunakan Atap Seng?
Di tengah pergeseran tren penggunaan genteng sebagai atap rumah, data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sebanyak 32,76 persen rumah di Indonesia masih menggunakan seng sebagai bahan atap. Angka ini mengangkat pertanyaan penting: mengapa seng masih menjadi pilihan utama meskipun memiliki kelemahan seperti mudah berkarat dan membuat ruangan lebih panas?
Alasan Utama: Keterjangkauan dan Aksesibilitas

Menurut Denny Setiawan, arsitek sekaligus dosen Binus University, keterjangkauan menjadi alasan utama masyarakat memilih seng sebagai atap. “Tidak semua wilayah di Indonesia bisa memproduksi material yang lebih ramah lingkungan atau bisa membuat rumah adem, seperti genteng,” ujarnya.
Data BPS tahun 2021 menunjukkan bahwa provinsi-provinsi seperti Gorontalo, Papua Barat, Kalimantan Utara, Sumatera Barat, dan Sulawesi Utara memiliki proporsi tertinggi penggunaan seng. Wilayah-wilayah ini tidak berada di Pulau Jawa, tempat banyak produsen genteng berada. Akibatnya, akses ke genteng terbatas, sehingga masyarakat lebih memilih seng yang lebih mudah ditemukan.
Harga Murah dan Kebiasaan Masyarakat
Selain keterjangkauan, harga seng yang lebih murah juga menjadi faktor utama. Genteng, yang digunakan oleh 54,24 persen rumah di Indonesia, jauh lebih mahal dibandingkan seng. Hal ini membuat seng menjadi pilihan yang lebih ekonomis bagi masyarakat dengan modal terbatas.
Namun, Denny menegaskan bahwa seng bukanlah material lokal. “Genteng yang terbuat dari tanah liat sudah memiliki sejarah lebih panjang di Indonesia,” katanya. Meski demikian, ia menilai bahwa gerakan Gentengisasi yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto adalah langkah positif untuk mengganti penggunaan seng dengan genteng yang lebih tahan lama dan sejuk.
Gerakan Gentengisasi: Harapan untuk Masa Depan

Presiden Prabowo baru-baru ini mengumumkan program Gentengisasi, yang bertujuan mengganti seluruh atap seng di Indonesia dengan genteng. Menurutnya, seng membuat rumah terasa panas dan mudah berkarat. Ia juga membandingkan penggunaan bahan atap pada zaman dulu seperti ijuk dan sirap yang dinilai lebih adem ketimbang seng.
Denny menyambut baik inisiatif ini, tetapi menekankan pentingnya mempertimbangkan kebudayaan dan bentuk atap yang beragam. “Tidak semua rumah bisa diganti menjadi genteng. Apalagi bentuk atap rumah pun bermacam-macam dan tidak semuanya cocok dengan genteng,” ujarnya.
Tantangan dalam Penerapan Gentengisasi

Meski gerakan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hunian, Denny menyoroti beberapa tantangan. Pertama, perlu pembangunan pabrik genteng di seluruh Indonesia agar distribusi lebih merata. Kedua, perlu penyesuaian budaya karena tidak semua daerah siap mengganti atap seng dengan genteng.
“Sebenarnya ini juga ada sisi baiknya untuk misalnya memakai material yang lebih ramah lingkungan. Cuma kadang ada sisi budaya yang mungkin emang harus disesuaikan lagi karena nggak semuanya harus seragam,” tambahnya.
FAQ
Apa keuntungan menggunakan genteng dibandingkan seng?
Genteng lebih tahan lama, lebih sejuk, dan ramah lingkungan dibandingkan seng. Selain itu, genteng juga memiliki daya tahan terhadap cuaca ekstrem.
Mengapa seng masih digunakan di banyak daerah?
Seng lebih terjangkau dan mudah ditemukan di daerah-daerah yang belum memiliki akses ke genteng. Selain itu, biaya pengiriman genteng dari Jawa juga menjadi hambatan.
Bagaimana reaksi masyarakat terhadap program Gentengisasi?
Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hunian, tetapi perlu pendekatan yang sesuai dengan kondisi lokal dan budaya setempat.
Apa tantangan dalam penerapan Gentengisasi?
Tantangan utama termasuk pembangunan pabrik genteng di seluruh Indonesia dan penyesuaian dengan kebudayaan setempat.
Apakah semua jenis atap bisa diganti dengan genteng?
Tidak semua bentuk atap cocok dengan genteng, sehingga perlu evaluasi secara individu.
Kesimpulan
Penggunaan seng sebagai atap rumah di Indonesia mencerminkan kombinasi antara keterjangkauan, aksesibilitas, dan kebiasaan masyarakat. Meski memiliki kelemahan, seng masih menjadi pilihan utama di banyak daerah. Namun, dengan inisiatif Gentengisasi yang dijalankan oleh pemerintah, harapan besar diarahkan untuk mengganti penggunaan seng dengan genteng yang lebih tahan lama dan sejuk. Dengan pendekatan yang tepat, program ini bisa menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.










